(bukan) CERITA INSPIRATIF dan bisa bikin SAKIT MATA
Halo, Semangat Pagi…
Perkenalkan nama saya… ehm, sebut saja 93710008. Saat ini usia saya mendekati 51 tahun dan sudah sekitar 26 tahun saya merantau di ibukota Indonesia untuk mengepulkan asap dapur keluarga. Saya berasal dari kota Pahlawan dan “tersesat” secara tidak sengaja ke Jakarta.
Sebelum pertengahan 2019, pendapatan utama saya berasal dari kemampuan menulis. Dan ini sudah berlangsung sejak 1991. Saya pernah menjadi reporter, editor, executive editor, dan managing editor di berbagai perusahaan media tempat saya bekerja sebagai wartawan. Hanya sekali saya keluar dari ruang lingkup editorial, tepatnya di pertengahan 2016-hingga pertengahan 2017, ketika saya diajak berlabuh mantan Bos saya untuk menjadi event and sponsorship manager di sebuah jaringan mega gym yang berbasis di Amerika Serikat.
Di industri media massa, saya pernah bekerja di suratkabar, tabloid, dan media online generasi pertama.
Dari berbagai pengalaman kerja tersebut, saya mendapatkan gaji dari 300 ribu – 25 juta rupiah (plus tunjangan kendaraan bermotor sebesar tiga juta rupiah) per bulan. Hingga menjelang pertengahan 2019, tepat setelah menerima tunjangan hari raya, atasan saya memanggil untuk berbicara di ruangannya.
Inti pembicaraan itu, “Mas… saya sudah tidak sanggup lagi mempertahankanmu! Cash flow perusahaan sedang tidak bagus dan terus turun.” Kalimat inti dari Pak Bos pendek, tapi langsung memberikan pukulan telak. Keesokan harinya di usia 44 tahun lebih sedikit, saya resmi menjadi pengangguran. Moral rontok dan semangat seolah tercabut dari dari raga serta pikiran. Jujur saja… saya belum siap jadi pengangguran.
Dengan keahlian utama yang saya miliki (menulis), usia yang tidak muda lagi, serta industri media massa yang makin meredup, saya tidak memiliki cukup keyakinan untuk bisa kembali “masuk” kantor jika masih berharap pada pekerjaan lama.
Usai berbicara dengan Pak Bos dan kembali ke rumah, saya menceritakan semuanya kepada istri. Tanggapan dari istri cukup menyejukkan, “Kita jalani saja. Pasti ada jalannya.” Ketenangan istri tetap tidak mengusir kegundahan saya sebagai lelaki dan kepala rumah tangga. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala.
Saya mencoba merenung, memikirkan potensi lain dari diri yang bisa saya maksimalkan untuk memilihara nafas kehidupan keluarga agar tetap berlangsung. Sembari memikirkan solusi, saya menyalakan mode aktif hobi dan side job yang telah saya lakukan bertahun-tahun terakhir — memotret. Saya berkeliling ke tempat-tempat orang berkumpul untuk berolahraga dan memotret secara random.
Tujuan pertama saya melakukan hal ini adalah melepas stres. Kedua, mengingatkan “orang-orang” jika 93710008 masih hidup dan memotret. Ketiga, mendulang peluang untuk menjadikan aktivitas memotret sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Dan hanya butuh waktu dua bulan, orderan memotret mulai lancar mengalir untuk menutup kebutuhan rumah tangga. Dan kemudian di usia 44,5 tahun, saya mengubah haluan profesi dari seorang penulis menjadi full freelance photographer. Memang agak “menyimpang” dari pekerjaan yang selama ini saya jalani dan cukup telat untuk memulai profesi yang baru. Namun saya yakin, sepanjang saya focus, consistent, dan persistent, rintangan seberat apapun bisa dilalui. Seiring berjalannya waktu kepercayaan diri saya dengan profesi makin meningkat.
Tetapi namanya musibah, tentu saja tidak ada di kalender. Di kuartal pertama 2020, pemerintah secara resmi menetapkan wabah Covid 19 sebagai pandemi setelah menginfeksi Indonesia sejak akhir 2019. Berbagai aktivitas dan pergerakan dibatasi dengan ketat. Tidak ada kegiatan, tidak ada acara, dan tidak ada orderan datang. Bagi freelancer seperti saya, dunia terasa runtuh. Tiga bulan saya memendam diri di rumah. Selain demi kesehatan, tentu saja juga demi keamanan keluarga… apalagi istri saya memiliki komorbid.
Perlahan-lahan tabungan menipis, apalagi setelah membayar kontrakan rumah. Demi menutupi kebutuhan rumah tangga, istri menjual peyek dengan menggunakan merek hashtag yang biasa saya pakai di postingan social media. Saya membantu memasarkan (mencari pembeli) dan menjadi GOpapi (layanan khusus suami antar dagangan istri). Sebagai kurir, tiap hari saya bisa menempuh 40-100-an kilometer untuk mengatarkan pesanan.
Di fase awal, pesanan berasal dari teman dan kolega yang bersifat supporting order. Seiring berjalannya waktu, jumlah pemesan dan pesanan bertambah. Alhamdulillah, kebutuhan dapur bisa terpenuhi dari usaha ini. Langkah lain yang harus dilakukan adalah mencari lebihan untuk memenuhi kebutuhan lain.
Selain keluar rumah untuk mengantar pesanan, di waktu senggang saya juga kembali berkeliling ke tempat-tempat orang berkumpul untuk berolahraga dan memotret secara random. Gayung bersambut, orderan memotret mulai datang lagi, meski di acara tertutup, jumlah peserta terbatas, dan harus mengikuti prosedur yang ketat — antibody test (di masa-masa awal pandemi), PCR (di fase selanjutnya), dan (kemudian) Rapid Antigen Test.
Dari pemotretan random di jalanan (tempat-tempat orang berkumpul untuk berolahraga), ternyata ada permintaan untuk mendapatkan hasil foto yang saya jepret. Situasi ini membuat saya makin bersemangat memotret di jalanan. Dan saya tidak melakukannya sendirian. Ada beberapa fotografer lain yang melakukan hal yang sama. Tujuannya satu… survive di masa yang sulit.
Perlahan namun pasti, permintaan foto di jalanan makin meningkat. Jika sebelumnya hanya Sabtu dan Minggu saya beredar. Akhirnya menjadi rutinitas harian. Hanya libur di hari Senin. Masa keemasan para fotografer berlangsung dari akhir 2020 hingga menjelang akhir 2022. Dari penjualan foto di pinggir jalan ini, saya bisa mendapatkan penghasilan antara 50 juta – 120 juta rupiah per bulan.
Jujur… saya tidak menyangka jika pendapatan dari seorang fotografer jalanan bisa mencapai angka seperti itu. Dan banyak juga orang yang tidak tahu. Karena itu, di sebagian besar khalayak, kami — para fotografer jalanan dianggap sebelah mata, bahkan oleh oleh rekan-rekan kami sesama fotografer yang tidak turun di jalanan, terutama para super senior.
Sebagian dari penghasilan menjadi fotografer jalanan saya sisihkan untuk meng-upgrade dan menambah kelengkapan peralatan fotografi saya. Selain itu saya juga terus mengasah photography skills. Tujuannya? Mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi situasi normal jika pandemi Covid 19 akhirnya berakhir.
Di Oktober 2021, saya diajak bertemu sebuah konsultan komunikasi politik. Dalam pertemuan tersebut saya mendapatkan tawaran, “Mas… lu mau motret tokoh politik, gak? Kami ingin melihat bagaimana seorang tokoh politik diabadikan oleh fotografer yang biasa memotret sports. Karena itu Mas yang kami hubungi, bukan mainstream photographer atau photo journalist.”
Dan masih ada lagi, “Orangnya agak sulit. Tetapi kami yakin Mas bisa melaluinya. Cari sisi humanisnya, terutama dari candid. Jangan lupa bawa lensa 300mm ketika bertugas.” Dalam pembicaraan ini saya masih belum diberitahu siapa sosok yang harus saya foto.
Namun jawaban saya tegas, “Oke… gasss!” Saya tidak menanyakan berapa bayarannya, tetapi saya melihat peluang untuk berkembang dan melangkah jauh ke depan. Selain itu, petinggi-petinggi konsultan komunikasi politik tersebut sudah sering meng-hire saya, baik untuk acara resmi maupun kegiatan pribadi. Dan tidak pernah ada wanprestasi masalah keuangan. Mereka juga orang-orang baik di mata saya.
Dan kemudian bekerjalah saya dalam buta. Ini adalah dunia baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Tetapi saya belajar sambil berjalan. Mencoba memahami secara perlahan, hingga kemudian membangun standar operating procedure (SOP) yang terus ditingkatkan seiring perjalanan waktu.
Di lapangan, tepatnya di sebuah wilayah di Sleman – Daerah Istimewa Yogyakarta, di penugasan pertama, saya baru tahu siapa yang harus saya kawal dokumentasinya. Ternyata ketua sebuah lembaga negara setingkat kepresidenan, salah satu ketua DPP sebuah partai, dan cucu salah satu pendiri Republik Indonesia.
Usai penugasan, dalam perjalanan menuju bandara untuk terbang kembali ke Jakarta, salah satu petinggi konsultan komunikasi politik berkata, “Mas… udah aku transfer honor penugasan ini. Jangan lupa, beli lensa 300mm lagi.”
Saya pikir itu kata-hata itu hanya becanda saja. Karena masih berada satu mobil, saya tidak memeriksa transferan yang dikirimkan. Di bandara, saya baru mengecek. Dan beliau tidak bercanda. Honor saya memotret selama tiga hari ternyata setara dengan harga lensa 300mm f/2.8. Tentu saja saya tercengang. Ternyata masih banyak pihak yang menghargai kinerja fotografer dengan sangat layak.
Masih belum berhenti di situ. Penugasan yang sebelumnya saya kira single assignment ternyata berujung pada rutinitas. Dari seorang diri, saya kemudian ditemani satu fotografer — yang juga berasal dari fotografer jalanan — menjadi sebuah tim. Kini tim dokumentasi kami berisi tiga fotografer — yang semuanya berasal dari fotografer jalanan. Di periode ini, kami diminta mengawal dokumentasi tohoh tersebut tiap hari — baik di acara resmi, kenegaraan, kepartaian, maupun pribadi. Tim dokumentasi internal dari lembaga tersebut yang sebelumnya juga ikut mengawal dikembalikan ke bironya.
Dari perjalanan pengawalan dokumentasi VVIP ini, saya telah menjejakkan kaki di lima benua, 23 negara, dan berkeliling Indonesia. Tidak hanya itu, saya mewujudkan banyak mimpi setelah mengubah profesi saya di usia senja. Termasuk di antaranya, memotret satwa liar di habitatnya, memegang salju, menginjakkan kaki di pegunungan Jayawijaya, memasuki gedung PBB, berkunjung ke Swiss, dan di-umroh-kan. Pendek kata, pekerjaan ini mengantarkan saya dari jalanan ke istana.
Keberadaan saya di titik saat ini tidak terlepas dari orang-orang yang sangat suportif di sekeliling saya. Pernah mendengar istilah pygmalion effect? Ini adalah sebuah fenomena psikologi yang terjadi ketika harapan positif dari seseorang dapat memengaruhi perilaku, kinerja, semangat, dan hasil orang lain. Fenomena ini terjadi ketika kepercayaan pada kemampuan seseorang mendorong motivasi dan hasil yang lebih baik. Fenomena ini juga dikenal dengan sebutan self-fullfilling prophecy (ramalan yang terwujud sendiri).
Pendek kata, ini bisa berarti kita akan (bergerak) naik atau (merosot) turun ke level yang menurut orang-orang di sekitar kita mungkin bagi kita. So… untuk hal ini, yang kita butuhkan hanya (minimal) seseorang… seseorang yang mempercayai kita sepenuh hati (yang mungkin melebihi kepercayaan kita terhadap diri sendiri).
Jika kita memiliki seseorang yang percaya pada kemampuan kita dan mendorong kita untuk menjadi lebih baik, jaga kedekatan dengan orang tersebut. Mereka bisa menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Tetapi jika kita berada di lingkaran orang-orang yang tidak melakukan apapun dalam kehidupan, yang meremehkan kemampuan kita, atau selalu memandang negatif terhadap keberadaan kita serta tidak memiliki kepercayaan terhadap kita, SEGERA TINGGALKAN! Seperti penyakit, mereka akan MENGHANCURKAN HIDUP kita,
Karena ingat-lah, kita akan menjadi seperti orang-orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama kita. Selain itu, terkadang satu-satunya hal yang menghalangi kita dan potensi kita adalah seseorang yang mengharapkan dan mengarahkan kita untuk mencapainya.
MORAL THE STORY: Surround yourself with people that push you to be better. No drama, jealously, and mess. Just higher goals, good vibes, dan positive energy
Ini bukan kisah mewah. Tetapi cukilan fakta jika tidak pernah ada kata terlambat untuk mrmulai sesuatu yang baru.
Ingat… focus, consistent, and persistent di setiap langkah yang kita jejakkan. Inshaa Allah semesta akan mendukung.
Note:
Kisah lengkap perjalanan hidup pria paruh baya yang mengubah profesinya di usia senja ini bisa diintip di https://www.instagram.com/cnugroho/.